Sudah sore, sebentar lagi malam
aku harus siap-siap
dandanan tebal, tubuh ditutup dengan kain berjahit
yang agak sedikit terbuka, cuma agak sedikit.
aku berangkat jalan kaki
lihat wajah melengos
ada bibir mencibir
mulut menghujat
hina sekali aku ini
dunia malam itu hidupku
manusia bejat haus nafsu adalah mangsa ku
demi sedikit uang untuk hidupku
aku seorang pelacur, itu pekerjaan ku
dihina para wanita, dipuja para bangsat pria
aku pendosa bukan penghujat
aku cuma bekerja.
wahai wanita jangan hina aku
tapi jaga suami mu agar tidak bersama aku
aku pendosa sudah jelas
tapi aku bukan pendusta dunia.
-Bogor, 17.05.08-
waktu berputar, hari demi hari berlalu, berjalan, terkadang berhenti, terkadang maju, terkadang mundur. tujuan pun tak terdeskripsi dengan sempurna. langkah yang tak menentu bagai terkunci dalam ruang waktu, berputar arah, berpindah tempat, kembali pada satu titik. sia-sia. ketika cahaya tuntun langkah temukan arah, sedikit senyum hiasi bibir ranum. tak ada lagi keraguan dalam langka, seakan setiap arah adalah tujuan, semua untuk mu, titipan-Nya harta tak ternilai.
malaikat kecil
banyak waktu yang terbunuh, terbuang percuma tak percuma. Terkadang dirimu terabaikan, oh malaikat kecilku. Kini sedikit waktuku kuberikan untukmu, walau ku tau, waktu ini takkan bisa membayar waktu yang telah terbunuh dan terbuang. Maafkan aku wahai malaikat kecil ku. Satu hal yang perlu kau ketahui, aku begitu menyanyangi mu, kini kau telah menjadi inspirasi dalam setiap nafasku, dalam setiap pikiranku, setiap langkah dan gerakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar