Pagi ini, ada sedikit obrolan singkat tentang politik
Terjadi antara aku dan dia, dia, dia, dia
Mungkin obrolan ini tidak penting,
Tapi nikmat mengikutinya.
”Mempertahankan jabatan dan perebutan jabatan
Menjadi topik yang hangat, sehangat kopi susu yang terhidang
Trik-trik partai politik yang berlaga
Menjadi buah bibir yang nikmat, senikmat tempe mendoan yang tersaji
Orang bilang negara kita tak lagi perang
tak ada darah yang menetes ataupun mengalir
negara ini resmi merdeka, tak ada penjajah dari negara manapun
semua telah terusir dengan tidak hormat dari bumi pertiwi
hanya dengan bambu runcing dan syal dikepala.
Tapi, sepertinya perang itu belum usai.
Perang itu masih terjadi, coba buka jendela mata
dan lihat....
Dalam atap besar yang berwarna hijau, bertempat dijantung kota,
perang itu terjadi, bukan dengan bambu runcing dan
bukan dengan ikatan syal dikepala.
Tapi dengan suara-suara lantang bersama gerakan tangan,
dengan sehelai bahan, berbentuk dan bermotif, melingkar dileher.
Kata-kata bijak terlontar, yang sesungguhnya adalah, tudingan yang memuakkan.
Kata-kata bersahaja terucap, yang sebenarnya hinaan yang naif
Coba buka jendela mata, lirik sebuah nama saja
ada gelar didepan nama dan dibelakang nama.
Tidak satu atau dua tahun untuk dapatkan itu,
tapi, bertahun-tahun,
beratus-ratus bahkan berjuta-juta halaman buku,
menjadi teman dan refrensi untuk dapatkan itu,
Namun semua itu tak mampu,
menjadikan moral dan etika, bak sunan-sunan dizamannya.
Negara milik rakyat, namun berjalan bukan untuk rakyat
tapi untuk mereka, mereka wakil-wakil rakyat,
yang telah dipilih atas dasar kepercayaan rakyat.
Perang belum usai, perang selalu saja baru dimulai.
Namun Perang dulu dan kini, tidaklah sama
Dan tidak akan pernah sama."
”obrolan yang cukup fantastis bukan?,
Kopi susu dan tempe mendoan sudah bersarang didasat perut
ayo kita kembali, lanjutkan runtinitas yang ada,
tak ada yang dapat berubah hanya dengan oboral singkat.”
-29.2.08-ketikan penutup bulan-
waktu berputar, hari demi hari berlalu, berjalan, terkadang berhenti, terkadang maju, terkadang mundur. tujuan pun tak terdeskripsi dengan sempurna. langkah yang tak menentu bagai terkunci dalam ruang waktu, berputar arah, berpindah tempat, kembali pada satu titik. sia-sia. ketika cahaya tuntun langkah temukan arah, sedikit senyum hiasi bibir ranum. tak ada lagi keraguan dalam langka, seakan setiap arah adalah tujuan, semua untuk mu, titipan-Nya harta tak ternilai.
malaikat kecil
banyak waktu yang terbunuh, terbuang percuma tak percuma. Terkadang dirimu terabaikan, oh malaikat kecilku. Kini sedikit waktuku kuberikan untukmu, walau ku tau, waktu ini takkan bisa membayar waktu yang telah terbunuh dan terbuang. Maafkan aku wahai malaikat kecil ku. Satu hal yang perlu kau ketahui, aku begitu menyanyangi mu, kini kau telah menjadi inspirasi dalam setiap nafasku, dalam setiap pikiranku, setiap langkah dan gerakku.
Kamis, 28 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar