Jari mengais, kaki merangkak ditanah hitam pekatnya bumi
Mencoba menggali bayangan maya yang tak pernah jelas
Nafkah bukanlah lagi hal yang utama untuk dicari,
Lantas kekuasaankah yang utama ?
Ternyata menggapai, meraih, dan mengejar bukan hal yang mudah.
Kesadaran manusia telah diatas ambang keterpurukan
Letih dan lelah tak pantas untuk diucapkan
dan tak lagi diucapkan.
Optimis dan pesimis tak terlihat lagi bedanya,
hanya nafsu dan nafsu yang terus bermain dan bermain,
menari dan menari.
Tatapan tajam namun kosong tak dapat melihat hinanya dunia,
mencoba tumpahkan sisa-sisa air mata, menembus kegelapan malam,
bagai anjing melonglong memecah kesunyian malam.
Jiwa-jiwa yang kosong menjadi rumah-rumah setan,
yang selalu berbagahagia bagai menempati istana megah..
Tampak jelas kebodohan-kebodohan bagi cucu-cucu adam,
yang semakin lama semakin menyanjung
indahnya menari diatas derita saudara-saudara…..
yang semakin lama semakin tertawa bahagia,
memperlihatkan barisan gigi diantara bibir merah
diatas tangisan-tangisan dan jeritan-jeritan kelaparan.
Pujaan-pujaan kezaliman terus berkumandang,
tak ditinggalkan pula sujud demi sujud
diatas sajadah panjang yang terbentang.
Atau tak ditinggalkan pula nyanyian, dan
pujian-pujian pada Tuhan dalam Gereja.
Semakin jelas terlihat kebodohan manusia,
mencoba memadukan kezaliman dengan ketaatan pada Tuhan.
Bagaikan memadu alat musik dengan alat-alat musik lainnya.
Berharap kan terlihat jelas kebaikan, keharuman,
dan keindahan yang tercipta.
Apakah cermin dapat menjadi penawar
bagi manusia-manusia yang semakin lupa etika tanpa moral ?
Atau haruskah racun arsenik yang harus bertindak ?
Setelah murkanya alam tak dapat lagi
menyadarkan mahluk ciptaan-Nya yang dianggap paling mulia.
Dimana sesungguhnya peradapan ini.........?
Syair-syair yang tercipta oleh para penyair,
tak mampu lagi menjadi penasehat dan penenang bagi manusia serakah.
Gema azan tak mampu lagi mengetuk pintu-pintu hati manusia yang terkunci dan terkutuk.
Aliran ayat suci Al-Qur’an atau Injil tak mampu lagi,
masuk bersama udara menuju rongga-rongga dada,
menuju aliran darah dalam tubuh manusia murka.
Panjatan doa-doa atau pujian-pujian
tak mampu meninabobokan otak dikepala,
yang selalu terjaga oleh kenaifan dan kemungkaran.
Haruskah perputaran bumi yang mengubah atas menjadi bawah,
bawah menjadi atas, untuk dapat menyadarkan manusia dari kehinaannya,
dari kesombongan dan dari kebodohannya.....?
Sehingga baru dapat terdengar doa dan pujian-pujian kepada Tuhan,
“mohon ampun Tuhanku, ampun......,
ampun Tuhanku, ampun......., kumohon ampun.
Atau hanya kematian yang dapat hentikan semua,
kematian dalam kenaifan.
-10.5.05-
waktu berputar, hari demi hari berlalu, berjalan, terkadang berhenti, terkadang maju, terkadang mundur. tujuan pun tak terdeskripsi dengan sempurna. langkah yang tak menentu bagai terkunci dalam ruang waktu, berputar arah, berpindah tempat, kembali pada satu titik. sia-sia. ketika cahaya tuntun langkah temukan arah, sedikit senyum hiasi bibir ranum. tak ada lagi keraguan dalam langka, seakan setiap arah adalah tujuan, semua untuk mu, titipan-Nya harta tak ternilai.
malaikat kecil
banyak waktu yang terbunuh, terbuang percuma tak percuma. Terkadang dirimu terabaikan, oh malaikat kecilku. Kini sedikit waktuku kuberikan untukmu, walau ku tau, waktu ini takkan bisa membayar waktu yang telah terbunuh dan terbuang. Maafkan aku wahai malaikat kecil ku. Satu hal yang perlu kau ketahui, aku begitu menyanyangi mu, kini kau telah menjadi inspirasi dalam setiap nafasku, dalam setiap pikiranku, setiap langkah dan gerakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar